Musik dan Manusia

Oleh Purwo Rubiono

Musik Dan Peradaban Manusia

Musik telah menjadi bagian dari kehidupan manusia baik dalam aktifitas  sakral maupun profan, ia memiliki daya magis yang mampu menghipnotis, oleh karenanya musik memiliki peran yang sangat penting sepanjang sejarah manusia. Sebagai produk kebudayaan, musik tidak dapat dipisahkan dari masyarakat karena musik adalah presentasi gagasan manusia sebagai individu maupun masyarakat. Ia adalah ungkapan rasa, ekspresi dan indikator eksistensi manusia. Musik diciptakan bukan hanya untuk dinikmati keindahannya saja, melainkan juga dijadikan sarana mengungkapkan rasa kekaguman manusia pada Sang Pencipta Alam, Yang Maha Tinggi. Ia menjadi ibadah, ritual keagamaan dalam konteks kepercayaan masa lalu. Dalam peribadatan kuno, musik sangat urgen, ia jembatan yang mampu mengerakkan manusia yang lainnya menjadi satu-rasa, oleh karenanya dikatakan mampu membangun daya magis. Hal itu dapat kita rasakan bahkan hingga masa sekarang, puji-pujian, doa-doa diucapkan dengan merdu bukan semata-mata untuk keindahan saja, melainkan membangun kekhusyukan ibadah. Telah banyak kita lihat di berbagai umat beragama dalam peribadatannya, di dalamnya kita temukan banyak unsur musik, murrậtal, azan, qira’at, pembacaan mantera, hymne dan Sebagainya.
Musik semakin terus berkembang layaknya kehidupan manusia, tidak hanya di tataran ritual sakral, musik menjadi dirinya sendiri dalam tataran disiplin ilmu dan kesenian dan menjadi pembahasan khusus sejak era Pythagoras. Sebagai karya, manifestasi  perasaan manusia terhadap apa yang dihadapi dalam kehidupannya. Pada wilayah kesenian serius  (terdapat dua kategori idealisme dalam kesenian) bahwa karya seni, termasuk musik, adalah kritik bagi kehidupan, ia juga potret dari kehidupan, ada yang bersifat temporal, terikat oleh waktu dan tempat tertentu saja seperti halnya musik pop, ada juga yang abadi sebagaimana tercermin dalam kesenian tradisional bangsa-bangsa di dunia, di dalamnya tersimpan nilai-nilai estetika dan etika yang selanjutnya kita kenal dengan istilah local wisdom atau “kearifan lokal” yang universal dan menjadi dasar atas gagasan serta perilaku suatu bangsa. Ia mampu merasuki jiwa dan membangkitkan perasaan hingga mempersatukan bangsa-bangsa, ia memiliki sifat universal, bahasa musik adalah bahasa yang bisa dimengerti oleh semua suku bangsa, ia juga mampu menjembatani manusia secara lahir dan batin, dari segi ekonomi dan mata pencaharian ia juga produk peradaban yang bisa diperjualbelikan dalam rangka mensejahterakan manusia melalui jalan industri seperti pada masa sekarang. Tetapi ia  juga mampu menjadi perusak, yaitu ketika musik semata-mata hanya menjadi barang komoditi yang kurang berisi, ketika orang tidak lagi memasukkan nilai kitik, seruan dan semangat perbaikan, hanya untuk mendulang uang, maka ia akan menjadi senjata yang membunuh manusia karena semakin terjauhkan dari nuraninya, dari nilai-nilai, beralih pada pencapaian materi semata.
Musik adalah obyek, ia bisa dijadikan apa saja tergantung bagaimana manusia memperlakukannya. Sebagaimana karya-karya seni lainnya, juga produk-produk kebudayaan lainnya, tidak hanya seni. Bahwa seringkali manusia menjalankan hidupnya terfokus pada satu cita-cita saja, kekayaan materi saja, meninggalkan hati-nuraninya dengan pola pikir dan perilaku yang luhur, sarat dengan nilai-nilai keberbudayaan maupun beragama, dan bukan hanya dalam pembicaraan saja, dalam gagasan saja. Nilai-nilai itu harus diejawantahkan oleh seluruh elemen masyarakat, termasuk para pemimpin masyarakat.
Dahulu kala, para pemimpin masyarakat memiliki budi yang luhur dan mulia sehingga masyarakat memberinya gelar, orang Mesir, Yunani, Cina, menganugerahi mereka gelar Dewa, di Nusantara dengan Sanghyang, Batara, Ratu, dan sebagainya. Mereka percaya bahwa para pemimpin itu adalah utusan Tuhan, perilaku dan perkataannya adalah kalimat Tuhan. Ratu adalah hukum. Oleh karenanya, para pemimpin itu bukan sekedar pemimpin secara politik, melainkanjuga secara spiritual. Nabi Muhammad SAW tidak hanya memimpin saat shalat sebagai imam, melainkan juga seorang perwira sekaligus hakim, dan sebagainya.
 Mulai dari Presidan, Gubernur hingga para pembantunya, adalah pemimpin, mereka dijadikan contoh  bagi rakyatnya. Sikap para pemimpin dan pejabat negara merupakan hukum, jika tidak sesuai dengan hukum dan nilai-nilai, maka harus dikenai “hukum”, kondisinya kini  terbalik. Hal semacam itu sudah berlaku di negeri ini, kejatuhan moral dan etika sudah terjadi di seluruh dimensi, seolah-olah kebudayaan telah tercerabut dari masyarakatnya, seringkali religiusitas menjadi retorika untuk menyembunyikan keserakahan.
Bahwa manusia akan selalu berusaha membuat hidupnya lebih baik, artinya manusia selalu membangun dirinya sendiri, merubah sendiri nasibnya, melalui pembangunan, dan pembangunan harus berlandaskan pada fitrah, yaitu manusia sebagai makhluk sosial, makhluk berbudaya, dan makhluk yang membutuhkan Tuhan (peribadatan). Hanya manusialah makhluk yang mampu melakukan perubahan karena memiliki daya cipta, ide/gagasan. Manusia yang tidak berbudaya adalah mansuia yang terlepas dari sifat-sifat sosialnya, menjadi individualistis, hatinya akan dipenuhi keserakahan dan permusuhan karena merasa terus kekurangan karena kesalahan orientasi dalam menentukan cita-cita. Sangat banyak bangsa semacam ini dan telah menjadi contoh dimana semula berjaya kemudian terjungkir oleh keserakahan dan kedengkiannya sendiri, merasa paling berkuasa dan menjadi sombong dengan kekuasaan dan kekayaanya, sudah banyak diceritakan dalam kitab-kitab suci, babad, sejarah maupun dongeng dan legenda.
Kita pernah disuguhi kisah Suråqåh, Qarun, Fir’aun, Malin Kundang, Dampu Awang, dan sebagainya. Oleh karenanya, pembicaraan tentang seni bukanlah semata-mata sekedar membicarakan hiburan, atau tentang ilmu seni itu sendiri, melainkan kita harus memandangnya sebagai satu kesatuan kehidupan manusia, kehidupan yang didasari nilai-nilai, yang membuahkan gagasan dan tercermin dalam perilaku. Gambaran seperti apa gagasan dan laku manusia itu dapat mencerminkan nilai dan kualitas manusia itu dalam suatu bangsa, sebagai indikator identitas bangsa, apakah terlepas dari koridor etika serta nilai-nilai kemanusiwiannya atau tidak. Memang berat jika kita memandang bahwa kegiatan “berkarya seni” jadi terbebani oleh nilai-nilai kehidupan, ini dikarenakan karya seni adalah manifestasi kehidupan itu sendiri, dan karya seni yang seperti inilah karya yang orisinal, asli dan tidak terlepas dari kehidupan,  sementara itu, kualitas hidup manusia juga dapat dinilai berdasarkan sejauh mana peranannya dalam masyarakat.
Sudah saatnya untuk memulai ke arah sana, karena selama ini, baik kebijakan politik maupun  ekonomi yang seharusnya membawa kesejahteraan rakyat, justeru semakin menjauhi rakyat, kesenjangan semakin lebar. Sudah saatnya kembali pada hati nurani. Maka melalui buku ini, bukan hanya misteri pelog dan slendro saja yang akan terungkap, baik dari segi sejarah, mitos, maupun ilmiah. Akan tetapi hendaknya kita juga bisa mengambil pelajaran dari berbagai peristiwa yang melatar-belakanginya, memahami peradaban dan kebudayaan yang melandasi semua produk-produknya, dan dengan demikian semoga kita mampu membuka mata dan menyadari akan “siapa kita”, semoga dengan terungkapnya misteri ini tidak membuat kita berbesar kepala pula, karena kebesaran yang kita punya merupakan tanggung jawab besar pula.
Mengungkap rahasia pelog dan slendro tidak lain berarti mengungkap rahasia musik tradisional. Musik tradisional Indonesia yang “eksotik”, fenomenal dan historik adalah gamelan. Perbincangan mengenai gamelan berikut sejarahnya, baik oleh orang Indonesia sendiri maupun dari mancanegara, selalu dimulai dari pulau Jawa dan Bali. Pengaruh gamelan sangat kuat bagi musik-musik tradisional di seluruh Nusantara. Secara khusus, pelacakan asal-usul gamelan justeru membawa kita menyusuri pulau Jawa, dan menariknya kita dituntun ke arah barat pulau Jawa, yaitu Banten.
Persoalan mengapa pelog dan slendro mesti membicarakan gamelan juga, hal ini karena pelog dan slendro adalah tangga nada yang digunakan dalam  gamelan. Di Jawa Barat gamelan sering dikaitkan dengan sebutan “gamelan degung”, dan ada juga yang menyebutnya “gamelan gending”, pada prinsipnya sama saja yaitu gamelan. Perbedaan keduanya berdasarkan pemakaian di masyarakat suku bangsa yang berbeda, tidak ada perbedaan secara prinsipil, namun sebagai pedoman, gamelan Jawa dimainkan dengan tempo lambat, gamelan Sunda dimainkan dengan cepat, sedangkan Bali dimainkan lebih cepat lagi serta penggunaan dinamika –keras dan lunaknya nada dibunyikan- yang tajam.
 Menurut catatan-catatan moderen, pada awal keberadaannya, gamelan hanya digunakan di keraton-keraton/istana kerajaan, permainan gamelan merupakan manifestasi atas kekaguman dan rasa terimakasih kepada Yang Maha Kuasa, bunyinya merupakan misteri, yang mampu membangkitkan rasa “agung”, “syahdu”. Pada perkembangannya kemudian gamelan menjadi sarana hiburan, misalnya pada penyelenggaraan pesta panen, pernikahan, khitanan, dan sebagainya. Perubahan ini ditandai dengan adanya perpindahan tangan kepemilikan gamelan dari para bangsawan kepada masyarakat biasa. Ini terjadi pada era kolonial, seiring dihapuskannya kerajaan-kerajaan atau kesultanan-kesultanan, dimana pada istana-istana yang memiliki gamelan, berpindah tangan pula. Sejak saat itu pulalah dua kebudayaan Timur dan Barat bersentuhan, orang timur mengenal biola, dan orang Barat mengenal gamelan.
Tetapi jauh sebelum itu, musik yang merupakan produk kebudayaan dimana pemunculannya beriringan dengan pemunculan suatu bangsa, telah tumbuh di berbagai tempat di dunia dan menjadi bagian dari sejarah dan peradaban bangsa-bangsa di dunia. Sementara itu, sejarah manusia berasal dari satu orang, yaitu Adam a.s., sebagaimana seluruh agama samawi mengakuinya, demikian pula dalam berbagai mitologi di dunia, khususnya pada masyarakat Baduy, mereka percaya bahwa manusia pertama adalah Adam, meski kita mencurigai pemahaman itu atas dasar masuknya pengaruh agama Islam.
Kemajuan peradaban manusia dipicu oleh munculnya gagasan-gagasan, gagasan tersebut berdasarkan pengalaman-pengalaman yang biasanya muncul dari alam bawah sadar, dan mengingat-ingatnya berarti mengingat pengalaman nenek moyangnya, demikian menurut Carl Jung. Artinya, peradaban manusia berawal dari satu sumber, dan dengan demikian, ada satu titik temu antara pembahasan asal-usul musik terkait dengan asal-usul manusia oleh karena keduanya muncul hampir bersamaan. Cabang-cabang keturunan manusia pertama itu mewariskan sifat-sifat nenek moyangnya, serta menemukan metode-metode inovatif dari cara-cara sebelumnya. Demikian pula dalam seni musik, di berbagai bangsa telah mengenal tangga nada pentatonik, baik pola slendro maupun  pelog, serta terdokumentasikan dalam bentuk alat musik yang berbeda-beda pula sesuai dengan kondisi dan kekayaan alamnya masing-masing. Di Afrika terkenal dengan Balafon, Marimba, kalimba, dan sebagainya, dan di Yunani pada era pra Aristoxenus dan Pythagoras dikenal tangga nada anhemitonik sebagai tangga nada tradisional mereka, dibuktikan pada alat musik lyra. Pada era Pythagoras,  anhemitonik berkembang menjadi diatonis berdasarkan teori tetrachord 1 dan tetrachord 2 (Ammer, 2004:146).
Kemudian di era 1900an hingga sekarang, musik telah menjadi industri yang menggiurkan, banyak bermunculan grup-grup musik baik berupa band maupun grup vokalis, orkestra, lembaga-lembaga pendidikan musik, dan tentu saja perusahaan rekaman. Tidak hanya itu, musik menjadi sarana terapi, pendidikan, dan stimulan bagi pertumbuhan otak janin. Aristoteles menyatakan bahwa “musik mempunyai kemampuan mendamaikan hati yang gundah, mempunyai terapi rekreatif dan menumbuhkan jiwa patriotisme.”[1]

 2.      Pengertian Musik

Jika kita memandang musik sebagai ilmu, maka kita patut mempertanyakan apakah musik itu? Istilah musik jika diambil dari bahasa Yunani adalah “Mousiké”, kemudian ditransformasikan melalui bahasa Latin menjadi “Musica”. Istilah ini merujuk kepada “ilmu mengaransemen melodi”, dalam bahasa Arab disebut “‘ilm al-musiqi” sebagai terjemahan dari Yunani yang merujuk untuk musik secara teori, meskipun orang Arab sendiri menyebutnya sebagai  “’Ilm al-Ghinaa” yang telah terangkum secara empiris pada kebudayaan Arab.[2]
Secara teknis, musik dibangun oleh beberapa unsur. Diantaranya adalah bunyi, yaitu getaran yang dapat ditangkap oleh organ telinga manusia, yang selanjutnya disebut “nada”.[3] Dave Benson kemudian menyebutkan, musik itu adalah getaran udara, dan udara adalah gas yang terdiri dari atom dan molekul, penambahan dan pengurangan tekanan terhadap molekul inilah yang menyebabkan adanya perbedaan getaran (dan diinterpretasikan sebagai bunyi, pen), dalam kondisi temperatur normal, molekul udara bergerak atau bergetar dengan kecepatan 450 sampai dengan 500 meter per detik[4].
Lantas, apakah dengan demikian segala sesuatu yang berbunyi dapat dikatakan sebagai musik?
Untuk menjawabnya, mari kita perhatikan unsur musik lainnya, yaitu durasi (note value, time), yaitu waktu yang dihabiskan dalam membunyikan nada, atau maksudnya “seberapa lama nada itu dibunyikan”. Ada nada yang dibunyikan sebentar, bahkan kurang dari satu detik, ada yang lebih, bahkan ada yang lebih lama lagi.
Unsur lainnya adalah harmoni,  pembahasan mengenai hal ini sebenarnya berada pada tingkat polifonik, termasuk pembahasan tingkat lanjutan, yaitu mengenai memainkan lebih dari satu nada dalam waktu bersamaan. Misalnya pada piano, sementara jari jempol membunyikan “do” jari tengah membunyikan “mi”. Antara nada mi dan do dikatakan harmonis jika pasangan nada tersebut terdengar nyaman di telinga – meski hal ini bersifat relatif, tergantung tingkat apresiasi pendengar, seringkali seseorang tidak nyaman dengan harmoni tersebut, tetapi orang lain merasa nyaman-.
Boleh dikatakan bahwa harmonisasi adalah kesesuaian antara nada yang satu dengan yang lainnya. Lazimnya, kesesuaian dimaksud mengacu pada serangkaian nada dalam satu “keluarga”, yaitu antara nada yang satu dengan nada yang lainnya masih berada dalam satu  tangga nada yang sama. Selanjutnya paham ini mengalami perkembangan dan aturannya semakin melebar. Baik melodi solo, duet, trio, kwartet, dan seterusnya. Kesesuaian pemasangan nada ini akan berpengaruh pada kenyamanan pendengaran, keadaan inilah yang dikatakan harmonis. Sebaliknya,  pemasangan nada yang tidak sesuai berpengaruh pada ketidaknyamanan pendengaran (dissonant). Tetapi pada akhirnya hal tersebut tergantung pada bagaimana musisi menginginkannya, toh pada perkembangan selanjutnya,  nada-nada dissonant[5] telah digunakan juga sejak era musik klasik terutama pada komposisi-komposisi Frederick Chopin hingga pada era jazz. Pada masa ini nada-nada dissonant begitu banyak digunakan sehingga menjadi ciri khas, akhirnya pada masa kini istilah dissonant jarang digunakan.
Dari sini penulis berpendapat bahwa pembicaraan musik harus dimulai dari tataran teknis, penulis memandang bahwa secara teknis, unsur utama dalam dunia musik adalah nada. Telah dikatakan bahwa nada adalah bunyi, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh getaran suatu benda, resonansi yang dihasilkan menimbulkan efek suasana pada hati seperti dikatakan Aristoteles.
Seorang musisi, secara teknis akan memahami perihal tangga nada beserta intervalnya. Musisi yang sudah terkenal sekalipun, akan mengacu pada aturan ini. Oleh karena itu, nada perlu dibicarakan sebagai peletak dasar pembahasan ini, meskipun agak masuk ke dalam tataran teknis, penulis akan berusaha menyampaikannya secara sederhana dan tuntas.
Selanjutnya, penulis akan membahas di seputar musik pentatonis, yang berarti akan berbicara  dua hal, yaitu pentatonis dengan pola pelog dan pentatonis dengan pola slendro. Juga akan membicarakan alat-alat musik yang menggunakan tangga nada pentatonis, selndro maupun pelog terkait penggunaannya di masyarakat. Tentu saja akan membahas pula tentang jenis-jenis kesenian yang berada di wilayah Banten serta keterkaitannya dengan alat musik dan tangga nada yang mereka gunakan.
Pembahasan sejarah musik pentatonis, baik dari segi nada, maupun alat musiknya, keterkaitan peradaban manusia dengan musik yang diproduksinya, telah banyak dibicarakan. Secara umum dinyatakan bahwa kemunculan musik bersamaan dengan kemunculan makhluk yang bernama manusia. Hal ini tentu akan berbicara juga di seputar timbul-tenggelamnya suatu peradaban, berdasarkan literatur, bukti-bukti sejarah baik dalam karya sastra lisan, tekstual, maupun artefak.
Dari sini, penulis mencoba membuka wacana baru, bahwa keterkaitan sejarah musik pentatonik dengan sejarah peradaban manusia sangat erat, sehingga bisa diasumsikan bahwa musik penatonik berasal dari suatu tempat yang terpusat, lalu menyebar ke seluruh belahan bumi menjadi musik tradisional di negeri-negeri lain di dunia, yang pada akhirnya berkembang menjadi musik klasik, dan menjadi musik moderen seperti yang kita nikmati sekarang.



[1] Al-Wafaa News, 1997, halaman 3.
[2] Ibid, halaman 4.
[3] Christine Ammer, 2004,  The Facts on File Dictionary of Music, halaman 262. British menyebut “nada” dengan “note”, sedangkan Amerika adalah “tone” untuk menyebutkan nada sebagai bunyi (audio), dan “note”  sebagai lambang nada  (tekstual). 
[4] Dave Benson, 2004, Mathematic and Music, Departement of Mathematics, University of Georgia, Athens, USA, halaman 1.
[5] Dissonant atau dissonance, merupakan interval nada atau chord yang tidak nyaman didengar, misalnya, dalam harmoni C-E-G, terdapat nada D, maka nada D tersebut dissonant. Aturan ini berlaku sejak sekitar tahun 1500an sampai 1900an, konsonant hanya berlaku pada nada unison (misalnya C dengan C tinggi). Sejak era 1900an aturan ini ditolak secara luas. (Christine Ammer, 2004:109)

Apa Kabar Kebudayaan? >>

Comments