Lebak Sibeduk dan Arca Domas di Banten Selatan

Studi Banding dalam Konteks Kesamaan Akar Budaya Nusantara

DRS. HALWANY MICHROB, M.SC



I.     PENDAHULUAN

Monumen-monumen megalit ditemukan di Indonesia dalam wilayah sebaran yang amat luas, baik di Indonesia bagian barat mau pun bagian timur. Monumen-monumen tersebut antara lain terdiri dari menhir (tunggal/kelompok), struktur berbentuk dolmen, pelinggih batu (stone benches), kubur peti batu (stone-cist grave), bejana batu (stone vats), sarkopagus, dinding batu, bangunan berundak berbentuk piramid, undakan batu, altar permusyawaratan, pemandian, serta arca menhir mulai dari yang berbentuk amat sederhana sampai yang rumit dalam detailnya (Haine Geldern, 1945: 148).

Persepsi pertama-tama terhadap monumen-monumen megalit Nusantara memiliki nuansa yang cukup beragam, terutama apabila dilihat dari aspek kronologinya. Misalnya Kohlbrugge menganggap bahwa punden berundak dan menhir-menhir di Gn. Argopuro di Jawa Timur dianggap memiliki ciri-ciri Hinduistik, sementara Stutterheim menganggap monumen-monumen tersebut berasal dari kurun pra-Hindu, setelah ia membandingkannya dengan monumen-monumen ahus dan marae yang terdapat di Polynesia.

Eksplanasi umum pertama dari kehadiran monumen-monumen megalit Nusantara disusun oleh J. Mecmillan Brown, yang menya-takan asumsinya bahwa monumen-monumen tersebut merupakan salah satu jejak adanya migrasi ras Kaukasian dari Mediterranian ke wilayah Asia Selatan, sebaliknya Perry (1918 & 1923) berasumsi bahwa kehadiran monumen-monumen megalit di Nusantara merupakan indikasi berkembangnya peradaban purba (archaic civilization) yang berasal dari Mesir.

Pendapat-pendapat tersebut di atas, bagaimana pun merupakan gejala kurangnya pemahaman dan tidak kuatnya dasar-dasar kebenaran dalam menafsirkan fakta-fakta, sementara metode-metode berfikir mereka masih dapat dipertanyakan lebih lanjut, meski pun tak dipungkiri bahwa karya-karya mereka telah merangsang kajian lebih dalam pada masa-masa berikutnya.

Setelah melakukan kajian monumen-monumen megalit di Assam (Myanmar Barat) dan di Indonesia, di mana di berbagai tempat masih terus didirikan monumen megalit, Hiena Geldern sampai pada kesimpulan bahwa dari monumen-monumen tersebut didirikan sebagai perwujudan konsepsi para pendukung tradisi mengenai alam hidup setelah mati, lebih daripada sebagai media ritus-ritus penolak bahaya.

A.N.J. Th. a Th. van der Hoop, setelah melakukan pembandingan-pembandingan monumen-monumen megalit yang terdapat di Indonesia, India, Malaka, Jepang dan Polynesia, menyimpulkan mengenai adanya hubungan antara monumen-monumen megalit yang didirikan di Indonesia dengan yang di luar Indonesia (1932).

Lebih jauh, Haine Geldern memandang bahwa setidaknya terdapat dua gelombang besar migrasi manusia dari Asia Tenggara Daratan ke Nusantara, yang menghasilkan tradisi pendirian monumen megalit, yang dalam beberapa segi dapat dibedakan, yakni :

1.    Megalit Tua, dalam kenyataannya mungkin terjadi beberapa aliran etnik dan kultural pada masa kehidupan bercocok tanam (neolitik) oleh kelompok-kelompok manusia yang memper-kenalkan pembuatan dan penggunaan beliung-beliung persegi (quadrangular stone axe), yang boleh jadi berlangsung antara 2500 sampai dengan 1500 BC. Kelompok etnik tersebut memperkenalkan adat-adat pendirian menhir, dolmen bukan kubur, pelinggih batu, undakan batu, piramida batu, altar permusyawaratan, serta berbagai jenis kubur batu.

2.    Megalit Muda, dalam kenyataannya juga mungkin terjadi beberapa kali aliran migrasi dari pada gerakan datang yang sekali dan seketika, berlangsung pada masa logam awal atau pada tingkat perundagian (early metalic) yang bersamaan dengan berkembangnya budaya Dongson di Asia Tenggara Daratan, para migran tersebut memper-kenalkan penggunaan kubur peti batu (stone-cist graves), kubur-kubur batu berbentuk dolmen (dolmen like slab graves), sarkofag batu, dan kubur bejana batu (stone vats graves). <R>

 

Sementara tradisi megali tua tersebar luas meliputi wilayah- wilayah Indonesia sampai ke Oceania, dan masih tetap survive sampai sekarang di berbagai lokalitas di Semenanjung Malaya, sementara persebaran tradisi megalit muda lebih terbatas dan hampir tidak ada yang masih eksis, kecuali di Nias, Batak dan P. Sumba (Indonesia Timur).

P.V. van Stein Callefels menganggap bahwa adat pe-nguburan dengan peti batu mungkin diperkenalkan oleh/melalui aliran migrasi paling awal dari Asia Selatan. Sementara itu W.F. Stutterheim mencatat adaya persamaan gaya-gaya yang kuat pada arca-arca di Pasemah (Sumatera Selatan) dan Cina, khususnya yang berasal dari masa Dinasti Han (206 SM - 220 M).

Berbeda dengan Haine Geldern yang lebih menitik-beratkan pada aspek konseptual mengenai alam hidup setelah mati bagi latar belakang pendirian monumen-monumen megalit, R.P. Soejono et al. (1984: 210-211), berpendapat bahwa keberagaman bentuk monumen megalit tak luput dari latar belakang pemujaan nenek moyang dan pengharapan kesejahteraan bagi yang masih hidup, serta kesempurnaan bagi si mati.

R.P. Soejono dkk. selanjutnya menyatakan bahwa bentuk monumen megalit yang paling tua, mungkin berfungsi sebagai kuburan dengan bentuk yang beraneka ragam, mulai dari dolmen, peti kubur batu, bilik batu, sarkofagus, kalamba, bejana batu, waruga, batu kandang dan temu gelang. Pada tempat yang sama biasanya terdapat monumen lain untuk pelengkap pemujaan nenek moyang, seperti menhir, batu dakon, pelinggih batu, tembok batu atau jalanan batu.

Monumen-monumen megalit di Indonesia terdapat di Sumatera (Pasemah, Lahat, Tanjung Arau, Lima Puluh Kuto, Tegurwangi, Pugungraharjo, Pugungtampak, Telaga Mukmin dan sebagainya), Jawa (Gn. Padang, Pangguyangan, Tugu Gede, Lebak Sibedug, dan sebagainya), Sulawesi Utara, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur (Flores, Timor, Sumba, dll.), dan mungkin di berbagai tempat di Maluku dan Irian Jaya. Dalam hal tidak adanya monumen-monumen megalit yang dibuat dari batu-batu besar, dapatlah diduga kemungkinan, bahwa lingkungan alam setempat memang tidak menyediakan bahan batu berukuran besar, sehingga eksperesi tradisi megalit akan tampak pada unsur-unsur rancang bangun kayu, pola hias kain tenun, ragam ukir dan sebagainya.

Dari sebaran monumen-monumen tradisi megalit di Nusantara ini, dapat dibedakan:

1.    monumen-monumen yang sudah terlepas dari konteks sistem perilaku pendukungnya (dead monuments);  dan

2.    monumen-monumen yang masih terus berlanjut hidup dalam konteks sistem perilaku pendukungnya (living monument).

Kompleks monumen tradisi megalit yang terdapat di Lebak Sibedug dan Arca Domas di wilayah Banten Selatan, merupakan salah satu dari sekian banyak monumen (seperti di Nias, Batak, dan Nusa Tenggara Timur), yang masih dipuja/dikeramatkan oleh para pendukungnya, sekaligus menjadi referensi kultural bagi komunitas yang mempercayainya.

 

2.    MEGALIT LEBAK SIBEDUG DAN ARCA DOMAS

Di Jawa Barat banyak ditemukan monumen-monumen megalit, khususnya di bagian tengah yang bergunung-gunung, misalnya di Kabupaten Kuningan (Cipari dan Cigugur), Kabupaten Sukabumi (Tugu Gede, Pangguyangan, Ciarca dan Salak Datar), Kabupaten Bogor (Pasir Angin, Gn. Galuga, Pasir Kuda dll.) dan akhirnya di Kabupaten Lebak, yang amat terkenal ialah Lebak Sibedug dan Arca Domas.

Dari hasil kajian bibliografis Rumbi Mulia (1980: 269) di wilayah ex-Keresidenan Banten tercatat monumen-monumen mega-lit sebagai berikut:

1.    Tenjo, Pandeglang: arca yang dibuat amat sederhana, memperlihatkan tokoh yang sedang duduk, kini disimpan di Museum Nasional (No. 4350).

2.    Candi, Lebak: bangunan megalit dengan arca berjumlah 11 buah seluruhnya telah dipindah ke Museum Nasional (No. 4222-4232).

3.    Kerta, Parengkujang, Lebak: arca dari batu lempung, sudah dipindahkan ke Museum Nasional (No. 3865).

4.    Kosala, Lebak: bangunan berundak yang di dekatnya ditemukan pula arca yang dikenal dengan sebutan arca Kosala dipahatkan sebagai tokoh yang sedang dalam posisi duduk.

Monumen-monumen di Kosala dan Lebag Sibedug, memperlihatkan adanya hubungan dengan orang-orang Baduy yang kini hidup terpencil di daerah pedalaman Banten Selatan. Monumen di Lebak Sibedug berupa undak-undak batu (bangunan/punden berundak). Undakan batu di Kosala terdiri dari 5 tingkat yang pada setiap tingkatnya terdapat menhir. Kadang-kadang dijumpai sebuah papan batu (slab stone) berbentuk segi lima, dan pada bagian bawah yang terpendam dalam tanah terdapat beberapa buah batu bulat (batu pelor) yang bergaris tengah antara 10 - 15 cm.

Sebuah arca kecil ditemukan di dekat struktur berundak tersebut, kedua tangannya terlipat ke depan, salah satu di antaranya seperti dalam sikap mengacungkan ibujari.

Arca Domas adalah bangunan berundak dengan 13 tingkatan dan pada tingkat paling atas terdapat sebuah menhir berukuran besar, yang pemercaya dianggap melambangkan Batara Tunggal, Sang Pencipta Roh, dan kepadanya pula roh-roh akan kembali.

Monumen Lebak Sibedug juga merupakan bangunan berundak empat tingkat setinggi ± 6 meter. Di depan undak batu ini terdapat dataran yang di tengahnya terdapat sebuah menhir. Menhir pusat ini ditunjang oleh batu-batuan berukuran kecil.

Mengenai fungsinya, B. van Tricht (1929) menduga bahwa Arca Domas bagi masyarakat Baduy merupakan media pemujaan yang berkaitan dengan upacara mendatangkan hujan, sementara Norman Edwin menganggapnya sebagai media upacara menyatakan terima kasih ke Yang Maha Esa/Batara Tunggal ? (Sukendar, 1982: 64).

Penafsiran fungsi tentunya dapat diuji melalui kronologi agar setiap artefak dapat ditempatkan dalam bentang waktu, ruang dan perilaku budaya pendukungnya. Khususnya mengenai arca-arca type Polynesia yang "diclaim" sebagai arca prasejarah, khususnya yang berasal dari wilayah Jawa Barat, Satyawati Suleiman mengingatkan perlunya sikap hati-hati.

Satyawati Suleiman (1991: 318) selanjutnya mengingatkan bahwa di antara arca-arca apa yang disebut dengan type Polynesia yang katanya "prasejarah" itu, ada yang berangka tahun antara 1263 - 1314 M dengan guratan huruf Pallawa atau Jawa/Sunda Kuna. Bahkan ada salah satu arca yang bersikap tangan seperti sikap tangan pada salah satu arca Budha di Candi Borobudur, atau ada yang berhias tengkorak-tengkorak seperti lazim pada arca Hinduistik/Budhistik.

Bahkan Agus Aris Munandar (1992: 284) mendeskripsikan arca Kosala, yang dipahatkan dalam bentuk relief tinggi dengan ukuran tinggi ± 50 cm, kemudian ditafsirkannya sebagai arca Budha yang lipatan tangannya seolah-olah menggambarkan mudra tertentu dari Sang Budha.

Rumbi Mulia mengingatkan bahwa tipologi arca dari Kosala menyerupai arca perwujudan periode Klasik Akhir yang melambangkan pengruwatan dan mungkin menggambarkan arca leluhur (1980: 616-618). Atas alasan-alasan ini, Agus Aris Munandar kembali mengingatkan agar bangunan-bangunan berundak di Jawa Barat tidak selalu ditafsirkan berasal dari masyarakat pendukung tradisi megalit.

Halwany Michrob (1988) menganggap bahwa hasil-hasil pene-litian resen dalam bidang arkeologi, linguistik, paleo-etno-logi dan sejarah, tampaknya mendorong untuk dilakukannya penganalisaan lebih jauh, mendasar dan komprehensif, termasuk harus diberikannya perhatian terhadap kemungkinan penerapan teknik penelitian oral history, mengingat bahwa peninggalan Lebak Sibedug dan Arca Domas masih berada dalam konteks sistem perilaku pendukungnya, meski pun untuk Lebak Sibedug pada masa kini sering pula digunakan oleh ummat beragama non-Hindu untuk bernazar.

Halwany Michrob beranggapan bahwa budaya-budaya asli Nu-santara seperti di Lebak Sibedug dan Arca Domas, atau tempat lain di Jawa Barat mau pun di Nusantara, memiliki berbagai persamaan unsur- unsurnya dengan budaya-budaya asli yang terdapat di Rupa-nui (Madagaskar), P. Paskah Timur, P. Formosa, Campa, bagian tengah kepulauan-kepulauan di Samudra Pasifik, dan Selandia Baru.

Apabila timbul berbagai perbedaan, tak lain disebabkan oleh evolusi sebagai akibat adaptasi-adaptasi lokal, sekalipun unsur- unsur yang bersifat prinsip merupakan faktor yang konstan.

 

3.    PERBANDINGAN-PERBANDINGAN

Para ahli arkeologi menyatakan bahwa dari peninggalan-peninggalan megalit dari Madagaskar sampai Rupa-nui, dapat dijelaskan budaya megalit merupakan unsur dasar budaya Nusantara asli sebelum kehadiran anasir-anasir kultural bercorak Hinduistik maupun Perso-Arabik (Islam).

Monumen Lebak Sibedug di Banten Selatan dapat dimasukkan dalam kategori monumen "pembauran", sementara peninggalan Arca Domas di Kanekes yang masih tetap survival dan masih berada dalam konteks sistem perilaku para pendukungnya dipakai sebagai tempat pemujaan orang "Baduy" dari generasi ke generasi.

Untuk dapat mengetahui secara lebih mendalam arti-arti dan fungsi bangunan- bangunan berundak di Lebak Sibedug dan Arca Domas, mungkin ada manfaatnya dilakukan studi banding terhadap produk-produk kultural yang setingkat-sejaman (homo-taxial), tentunya yang relevan, yang diperkirakan berasal dari akar kultural yang sama, misalnya kajian terhadap bangunan-bangunan berundak di Madagaskar, Asia Tenggara, Polynesia atau Oceania.

Untuk mengetahui latar belakang permasalahan tentang punden berundak, kita mengadakan studi percontohan dengan bangunan yang ada di Madagaskar. Bangunan tersebut dipergunakan sebagai kuburan (fasena), terutama untuk kaum bangsawan Merina dan dianggap merupakan tempat pemujaan penting. Sebagai kepercayaan asli nenek moyang mereka (rezana dari kayang ke parahiyang) tempat tersebut dianggap menjadi "dewa" yang dapat melindungi keluarga yang masih hidup. Biasanya pada bangunan tersebut terdapat altar tempat upacara pengorbanan.

Dalam pemikiran tradisional Merina, bangunan yang dipakai khusus untuk tempat pemujaan tersebut terbuat dari batu-batuan. Sedangkan bangunan untuk tempat tinggal manusia yang masih hidup, rumah terbuat dari tanah dan kayu termasuk bagi kaum bangsawan. Pada kuburan mereka diletakkan sebuah "rumah kecil" dari kayu yang disebut "trang menara" (rumah dingin) dengan atap bertanduk, yang akhirnya dipakai sebagai tempat pemujaan. Mungkin perkembangan kubur Merina merupakan akibat dari evolusi budaya (seperti halnya dengan trang menara). Tapi seperti yang kita dapati di situs Lebak Sibedug fungsi asli monumen megalit ini banyak mengalami perubahan. Sehingga arti pertamanya tertutup oleh budaya masa kini, lain halnya dengan Arca Domas yang masih dipuja orang Baduy pada masa "Ngalaksa" dan "Kawalu" setiap tahun hingga sekarang.

Budaya megalit yang masih berfungsi sebagai tradisi prasejarah, masih kita dapati di Oceania yang disebut "marae". Di Polynesia timur di sekitar Tahiti pun masih terdapat punden berundak dengan fungsinya yang masih konstruktif. Pada hakekatnya sistem kehidupan mereka masih mempertahankan warisan budaya yang paling tua. Walaupun di bagian barat Polynesia tidak terdapat punden berundak, namun "balai puri" yang terletak di teras masih dipertahankan. Seperti halnya di Pulau Samoa yang mereka sebut "Marae". Sistem Marae sebagai monumen merupakan fenomena yang survival yang berakar dalam konsepsi orang Nusantara, khususnya tentang kepercayaan mereka dari masa lampau.

Bagi orang Madagaskar kemungkinan sistem kuburan dalam punden merupakan penemuan baru, setelah nenek moyang mereka melupakannya selama mereka menjadi pelaut yang selalu bergerak berpindah tempat.

Representasi mental yang berakar dalam warisan budaya mereka yaitu tempat suci atau dewa berbentuk piramida, melambangkan gunung. Secara natural mereka dapat menemukan kembali sesuatu yang sudah hilang di masa lalu, ditambah lagi bahwa orang Madagaskar mau pun orang Polynesia belum terkena budaya luar untuk mengubah fungsi bangunan.

Bangunan punden berundak biasanya berbentuk persegi panjang di suatu lapangan atau merupakan teras yang bertingkat terbuat dari batu. Batu-batu yang di bagian sudut bisanya terdiri dari jenis batu yang berukuran besar dan panjang. Bangunan tersebut terdiri dari dua, lima sampai sebelas tingkat mengecil ke sebelah tingkat yang lebih atas. Situs berbentuk lapangan atau teras sering disebut "Tahua" atau pae-pae merupakan tempat pemujaan. Hanya pendeta (Ariki) atau bangsawanlah yang diperbolehkan masuk marae. Di sekitar teras ini terdapat beberapa benda suci dan beberapa jenis batu-batuan sebagai lambang pemilikan atau tanda peringatan bagi turunan mereka.

Di bagian depan Tahua disebut "ahu" yaitu punden berundak yang kosong. Pada puncaknya khusus digunakan untuk suatu upacara tradisi sebagai perlambang dewa tunggal atau disebut sang Hyang Tunggal, monoteis. Bagi keluarga kecil dalam persembahan mereka terkadang hanya menggunakan marae kecil tanpa "ahu".

Di Polynesia, marae disebut "malae" digunakan juga untuk rapat atau pertemuan para penghulu (matei). Seperti di Aoterao, New Zealand, di sebut "tuchu", artinya sebuah lapangan yang dikelilingi tembok batu. Perlu dicatat bahwa di Tahiti marae merupakan bangunan tertua dan masih berfungsi sebagai tempat pemujaan yang berkesinambungan sejak masa prasejarah hingga sekarang ini. Selain itu di Taputapuatea (Pulau Raiatea) Hawaiki atau Hawai sekarang bangunan tersebut masih dihormati. Punden berundak di tempat ini disebut "Sauri" (Jawa kecil) dengan 'Ahu"-nya yang bertingkat tiga. Itulah sebabnya orang menganggap bahwa peninggalan ahu di dalam sistem marae periode terakhir merupakan fenomena yang tidak terlalu lama. Ahu sebagai lambang kekuatan politik para bangsawan tingggi disebut "ari'i (ariki) rahi" di mana sebelum masa akhir datangnya bangsa barat, mereka membangun beberapa kerajaan setelah berhasil merebut kemenangan di dalam peperangan.

Fenomena marae mengandung beberapa hal penting untuk kita kaji kembali yaitu setiap unsur mempunyai simbol tertentu. Tahua berasal dari kata "tahugna" berarti orang arif atau ahli (spesialis) menciptakan lapangan marae yang dianggap lambang "perahu suci". Karena itu di dalam marae terdapat beberapa elemen bangunan yang terbuat dari batu yang berbentuk tiang, disebut "tira" (kapal) dan "ho'e" (dayung).

Lambang perahu ini merupakan lambang dari nenek moyang bangsa Nusantara kuno yang dikenal memiliki semangat dan tradisi pendekar laut yang tahu akan hal ihwal tentang maritim. Dengan istilah "manusia layar di antara langit dan bumi" dan lambang perahu bisa juga diartikan untuk mencapai dunia dan dewa-dewa. Simbolis perahu bisa dipakai sebagai kesatuan antara anggota atau kelompok suku (penduduk), bentuk solidaritas. Feno-mena "marae", "rahi" (marae besar) adalah milik Ariki Rahi yang diartikan sebagai "mata hiapo" (kakak sulung) dari bangsanya. Dan merupakan keturunan langsung dari dewa-dewa marae rahi sebagai anggota awak kapal kita kenal simbolisme yang masih dipakai oleh orang Maori (Abreatae) di New Zealand dan beberapa kelompok suku-suku terasing di Indonesia.

Salah satu daerah kecamatan Tahiti yakni "va'a mata cina'a" (perahu kecamatan) mengingatkan kita bahwa perahu sering diartikan sebagai lambang pemukiman bagi penduduk. "Rumah panjang" sering kita jumpai di Irian khususnya di Asmat. Orang-orang Eropa mengistilahkan "long house" seperti yang mereka lihat di Toraja, Jawa, Sunda dan Campa kuno di lain tempat. Ini merupakan konsep tradisi yang dapat kita kategorikan pada satu simbol budaya Nusantara berkat adanya temuan "mite" (legenda) di beberapa tempat. Di Jawa Barat, terdapat cerita rakyat mengenai "Sangkuriang" dengan Tangkuban Perahunya, sehingga daerah ini sering disebut "Parahyangan" dan dapat kita jadikan data untuk penelitian tentang "marae' di Jawa Barat.

Kelompok masyarakat dengan ikatan kekeluargaan dan pekerjaan sering diatur dengan sistem kegotongroyongan (cooperation sistem) serta mempunyai kharisma dewa pelindung pada diri mereka walau sudah berpindah agama. Tradisi prasejarah terkadang masih tercekam di hati sanubari dihati masing-masing . Dewa pelindung yang berasal dari faham marae yang berakar kuat dan membuat sugesti pada manusia masa lampau masih turun-temurun dipakai hingga masa kini. Dari ceritera Parahyangan pun ada unsur marae. Itulah sebabnya marae Rahi bisa disebut "balai kota" atau tempat umum di samping mengandung arti tempat kesucian (sonal dan profene).

 

5.    TINJAUAN PENUTUP

Hasil pengamatan terdahulu diketahui bahwa orang Baduy lari dari sebuah kerajaan di Pajajaran, dengan kesimpulan mereka berasal dari Pakuan yang pindah akibat serangan Sultan Maulana Yusuf (raja Banten tahun 1570 M).

Ini adalah merupakan pengamatan yang keliru, bukan sebuah hipotesa walaupun didukung oleh legenda atau babad yang perlu dikaji kembali. Metode "oral history" ternyata dapat membuka tabir Baduy untuk kelurusan sejarahnya, minimal tentang budaya mereka yang sebenarnya.

Tradisi megalit di Banten Selatan masih tertutup oleh diffusi budaya Hindu, Budha, dan terakhir dengan kehadiran Islam yang turut mewarnai masyarakat Baduy dan sekitarnya. Jika para peneliti tidak mempunyai kecermatan dalam meng-analisa budaya mereka, hasil yang dicapai tentu akan jauh dari kenyataan yang sebenarnya.

Lebak Sibedug dan Arca Domas secara fisik merupakan bangunan marae. Sebagai piramida atau "Ahu"nya adalah representasi gunungan, seperti halnya daerah di bawah kekuasaan "Ariki Rahi" biasanya dihubungkan dengan satu atau beberapa gunung suci yang dianggap tempat pemukiman para dewa. Dan dianggap lambang identitas Ariki Rahi tersebut. Marae dapat diartikan sebagai perahu atau gunungan. Maka pengetahuan tentang punden berundak yang ada di sekitar Nusantara cukup mengandung arti luas dan dapat mengungkap sejarah budaya yang masih terpendam. Kebudayaan Polynesia sudah lama menyesuaikan diri dengan keadaan yang berbeda dengan nenek moyang mereka. Mereka mengalami "inovasi" akibat isolasi, lain halnya seperti dengan Melanesia.

Kita kembali kepada Lebak Sibedug dan Arca Domas, nampaknya lambang dari gunungan.

Fonemena itu tidak mengherankan setelah kita ingat betapa pentingnya simbolis dalam kepercayaan Nusantara, karena tempat yang lebih tinggi lebih dekat dengan langit. Puncak gunung dianggap merupakan tempat tinggal para dewa atau tempat yang langsung selalu dikunjungi mereka.

Ketinggian adalah merupakan "rasa" untuk menghormati mereka. Juga gunung merupakan pemanteraan sesuai dengan kebutuhan manusia (kaki gunung berakar ke dalam tanah, sedangkan puncaknya menuju ke atas). Sehingga arti simbolisnya dipakai sebagai jalan menuju pintu gerbang yang dapat membawa sampai ke "Parahyangan".

Dalam ceritera pawayangan jalan sampai menuju ke nenek moyang selalu melewati gunung dan hutan (gunungan = kekayon). Sebagai tempat yang dicari untuk bertapa mencari kekuatan "magis" (mistik). Jadi, gunung dianggap sebagai pusat atau poros (pivot) yaitu "meru". Dengan adanya menhir berdiri tegak di atas pada prinsipnya merupakan lambang kemampuan nenek moyang (dalam bahasa Sunda, menhir disebut lingga yang artinya batu laki-laki). Keampuhan sang raja disebut "pakubuana" juga berhubungan dengan memperpanjang keturunan dewa (parahyangan yang tinggal di Parahyangan). Di samping melakukan pemujaan di atas gunung, orang Nusantara juga membangun gunungan di bawah atau di suatu bukit yakni punden berundak. Jumlah tingkatannya tergantung dari kepentingan dewa yang dipuja, juga kepentingan lain di Jawa Barat, seperti terdapat di Kanekes Pu'un (Baduy).

Dari pengamatan dapat diketahui kekhususan dalam bidang seni bahwa motif "tumpal" sering ditemukan pada kerajinan tekstil orang Baduy. Dan warna hitam putih merupakan warna dasar warna kebudayaan mereka. Sejak jaman prasejarah mengingatkan kepentingan gunungan tentang segitiga, umumnya dianggap sebagai simbol angka tiga di samping angka dua. Meski pun budaya Nusantara (menurut orang Asia Timur) sangat dualis (tanpa oposisi antara kedua ujung) biasanya tiga sebagai perantaraan agar supaya mengimbangkan kebutuhan manusia (seperti di Bali dengan peranan dua arah) penting ke "koja" (ke atas, ke gunung) dengan kandungan filsafat bahwa setiap orang yang naik pasti akan menjadi kaya. Mengenai fungsi ruang lapangan terbagi menjadi dua alam kesucian. Hubungannya dengan pintu gerbang (candi bentar dan paduraksa) keduanya merupakan gunungan, seperti juga pura di Bali berjumlah tiga.

Makam-makam Sunan (lihat arti "susuhunan") di Jawa, dan rumah-rumah asli "Baduy" di Kanekes yang mempunyai tiga bagian, yaitu atap yang diatur dan dihiasi dengan simbol (perahu, gunung, hiasan burung, tanduk, naga yang terbuat dari bambu dan ijuk enau) buat dewa untuk mengingatkannya dengan dunia bawah. Dan ruang tengah untuk manusia. Selanjutnya pada bagian rumah rumah juga ditemukan pada arsitektur seperti kita dapati di beberapa tempat di Bandung Selatan. Dari sudut sejarah budaya, ada evolusi sejak pertama kali punden dipakai sebagai tempat pemujaan, kemudian digunakan untuk tempat kubur para penghulu penting, yang dianggap sebagai pengganti dewa.

Raja diasimilasikan dengan dewa-dewa Hindu di mana rupa bagian candi menerima hiasan motif Hindu kemudian ada juga yang merupakan asimilasi simbolisme. Sehingga punden merupakan "meru", "stupa" sebagai pengganti "lingga".

Borobudur dianggap sebagai stupa bagi orang Budhis, namun bagi orang Nusantara kuno dianggap sebagai punden. Dengan demikian kebudayaan Hindu dapat ditemukan dalam beberapa aspek "supra struktural" yang berasal dari kebudayaan asli Nusantara dengan bagunan punden berundak menjadi candi.

Hal ini merupakan kesinambungan dan perkembangan seni dengan penampilan seni budaya penampilan dengan gaya batu sebagai proses budaya selanjutnya, mungkin merupakan konsepsi dan keperluan seniman atau pemuja Nusantara sendiri. Sesudah jaman pengaruh kebudayaan Hindu punden-punden berubah menjadi kuburan. Pada jaman Islam di Jawa, seperti kita dapati satu tempat di Cirebon dan tempat lain di Jawa Barat, asimilasi "Raja" berganti dengan istilah "Sunan". Sebagai penghormatan terakhir dari rakyatnya jenazah diletakkan di tempat tinggi atau gunung bekas pemujaan terdahulu.

Di Bali seperti halnya di Banten Selatan (gunung Cupu Pandeglang, dan Lebak Sibedug di daerah bagian timur Kanekes). Maka tidak akan ada putusnya hubungan budaya masa lalu dengan pemanfaatan situs yang dipakai pada masa kini. Kecuali Baduy di Kanekes dengan Arca Domasnya, kita masih perlu mengamati dan meneliti lebih jauh terhadap kebudayaan mereka yang sebenarnya. Khususya situs Arca Domas sebagai punden yang setiap tahunnya selalu kita dapati dua upacara tradisi yang seremonial dan mistery yaitu "ngalaksa" dan "kawalu". Arca Domas adalah suatu perwujudan dari bentuk pemujaan yang masih terselubung. Lain halnya dengan Lebak Sibedug dan Gunung Cupu, telah beralih peran bahwa punden tersebut dipakai "nazar" sambil menyembelih kambing bagi sebagian kecil ummat muslim, tentunya dalam konteks fungsional yang baru.

_________________________________________________________________

DAFTAR ACUAN

Asmar, Teguh, 1985, "Megalitik Unsur Pendukung Bagi Penelitian Sikap Hudup", Pertemuan Ilmiyah Arkeologi III-1993, Jakarta: Puslit Arkenas, 836-843.

Bellwood, Peter, 1977, Man's Conquest of the Pacipic - The Prehistory of Southeast Asia and Oceanic, Auckland: Collin.

-----, 1967, The Polynesian Prehistory of an Island People, London: Thomas and Hudson.

Emory, Kenneth P., 1933, Stone Remains in the Society Honolulu, Honolulu: Bernice P. Bishop Museum Bulletin, vol. 116

Granger, Jose, 1969, Pierres es rites sacrees du Tahiti d'antrefois Societe des Oceanites, Paris: Dessier.

Heine Geldern, Robert von, 1945, "Prehistoric Research in the Netherlands Indies", Science and Scientist in the Netherlands Indies, East, Eart Indies Institute of America, 129-162.

Hendry, Teuria, Ancient Tahiti, Honolulu: Bernice P. Bishop Museum, 1928.

Hoop, A.N.J. Th. a Th. Van Der, 1932, Megalithic Remains in South Sumatera, Zuthpen.

Michrob, Halwany, 1987, A Hypothetical Reconstruction of the Islamic City of Banten Indonesia, Master Sciences Thesis at University of Penn-sylvania, USA.

----------, 1988, "Yang Masih Berlanjut di Banten Selatan - Lebak Sibedug & Arca Domas Aspek Budaya Tradisi Pra-sejarah", Mitra Desa, Minggu 11 Desember.

----------, 1991, The Way of Life of Suku Baduy, as a Cultural Interest, Banten: SPAFA, June 1991.

----------, 1992, Penelitian Arkeologi Bawah Air di Danau Sentani: Lompatan Waktu Mendahului Masa Keemasan Arkeologi di Indonesia, Jakarta-Serang: SPAFA, 28 Juni-6 Juli.

Michrob, Halwany dan Mudjahid Chudari, 1993, Catatan Masalalu Banten, Serang: Saudara.

Mulia, Rumbi, 1977, "Beberapa Catatan tentang Arca-arca yang Disebut Arca Tipe Polynesia", Pertemuan Ilmiyah Arkeologi I-1980, Jakarta: Pusdiklat Arkenas: 599-677.

Munandar, Agus Aris, 1992, "Bangunan Suci pada Masa Kerajaan Sunda: Data Arkeologi dan Sumber Tertulis", Kumpulan Makalah: Pertemuan Ilmiah Arkeologi VI, Jakarta: IAAI, 267-292.

Sukendar, Haris, 1980, "Tinjauan Tentang Peninggalan Tradisi Megalitik di Daerah Sulawesi Tengah", Pertemuan Ilmiah Arkeologi I - 1977, Jakarta: Puslit Arkenas, 61-82.

--------------, 1982, "Tinjauan Tentang Berbagai Situs Megalitik di Indonesia", Pertemuan Ilmiah Arkeologi II-1980, Jakarta: Puslit Arkenas, 55-68.

Soejono, R.P. et al., 1984, Sejarah Nasional Indonesia I - Jaman Prasejarah Indonesia, (Ed. Marwati Djuned Pusponegoro & Nugroho Notosusanto), cetakan ke-V, Jakarta: Depdikbud.

Perry, W.J., 1918, "The Megalitik Culture in Indonesia", Publication of the University of Manchester, CXVIII.

Comments