KATA PENGANTAR

Buku ini disusun untuk memenuhi kebutuhan terhadap ilmu sejarah perkembangan arsitektur Islam di Indonesia, dimana para peneliti khususnya beberapa mahasiswa yang menekuni ilmu perkotaan baik di bidang arkeologi, sejarah dan arsitektur, sering datang ke situs Banten Lama dan menanyakan kepada penyusun apa saja yang kami peroleh selama menekuni Banten Lama yang tengah dipugar dari tahun 1977 hingga sekarang.

Dengan diwarnai oleh perjalanan sejarah perkembangan kota yang panjang, Banten Lama memiliki beraneka ragam corak sosial budaya. Keragaman itu adalah hasil kebudayaan asli masyarakat Banten ditambah dengan hasil akulturasi dengan berbagai kebudayaan asing yang pernah singgah atau disinggahi oleh orang-orang Banten sendiri ketika mereka melawat ke luar negeri beberapa ratus tahun yang lalu.

Kini keragaman itu merupakan suatu sumber daya yang sangat berharga dan menjadi pertimbangan yang penting bagi pemerintah menggali dan mengembangkan baik unsur-unsur lama maupun baru agar dapat dilanjutkan sesuai dengan kebutuhan terhadap pengembangan kualitas sosial ekonomi masyarakat sekarang dan yang akan datang. Sebagai kawasan yang pernah mencapai peradaban yang tinggi pada masanya, Banten Lama yang juga merupakan pusat kota pemerintahan dan perdagangan banyak meninggalkan warisan yang berharga, khususnya peninggalan situs kota dan arsitekturnya.

Untuk menjawab pertanyaan para peneliti dan beberapa mahasiswa tentang kesejarahan dan desain arsitektur, maka pembahasan ini erat hubungannya dengan karya fisik buatan manusia yang bernilai arsitektur dilihat dalam konsteks waktu. Adapun topik yang diambil adalah perkembangan dan perubahan artitektural kota Banten Lama dari awal tumbuhnya kota Islam sebagai pusat Kerajaan Banten sampai mesa keruntuhannya, eksistensinya pada mesa kini, dan usaha preservasi dan pengembangan pariwisata dimana Banten Lama merupakan obyek "taman wisata budaya". Sesuai dengan topik tersebut, maka buku ini kami beri judul: "Sejarah Perkembangan Kota Islam Banten: Suatu Kajian Arsitektural Kota Lama Banten Menjelang Abad XVI sampai dengan Abad XX".

Tulisan ini merupakan hasil pengujian ulang dari thesis penyusun di Universitas Pennsylvania tahun 1987 yang berjudul "A Hypothetical Reconstruction of the Islamic City of Banten, Indonesia", penyusun melakukan survai di lapangan ke daerah penelitian, penggalian arkeologi dengan Tim Pusat Penelitian Arkeologi Nasional bekerja sama dengan Ford Foundation dan Lembaga Penelitian Arkeologi Prancis dari tahun 1987 sampai dengan 1989.

Pada kesempatan ini, penyusun mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada:

-      Direktur Jenderal Kebudayaan Departeman Pendidikan dan Kebudayaan

-      Direktur Direktorat Perlindungan dan Pemeliharaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala,

-      Wakil Gubernur Daerah Tingkat I Jawa Barat, H.M.A. Sampurna.

-      Semua pihak yang telah memberikan bantuan dalam penyelesaian penulisan ini, khususnya kepada Prof. Dr. Hasan Muarif Ambary yang telah meluangkan waktunya untuk dapat mengoreksi makalah ini sehingga menjadi lebih baik lagi.

 Semoga Allah swt. selalu memberikan rakhmat dan taufik kepada kita semua, dan buku ini bermanfaat bagi pembacanya yang tengah menekuni sejarah arsitektur kota.

                                 Banten Lama, 19 Januari 1993



DAFTAR ISTILAH

 

Banten                  =   nama kerajaan Islam atau ibukota Banten, berasal dari kata Wahanten yang berarti sungai; atau ketiban inten, artinya tertimpa intan; atau Bantam, artinya kuat atau bantahan, yang berarti membantah.

Devide et impera    =   politik adu-domba atau memecah belah yang dilakukan kompeni Belanda.

Girang                   =   hulu

VOC (Verenigde Oost-Indische Compagnie) = Kongsi Dagang Belanda.

Speelwijk               =   benteng Belanda yang dibuat oleh H.L. Cardeel, dinamakan demikian pada masa Gubernur Speelman berkedudukan di Batavia.

Sultan                   =   Raja.

Tiyamah                =   berasal dari kata tihamah (Arab), merupakan bangunan tambahan di samping Mesjid Agung Banten.

Kaibon                  =   berasal dari kata ka-ibu-an, merupakan istana tempat tinggal Ratu Aisyah, ibunda Sultan Muhammad Rafiuddin.

Keraton                 =   istana.

Koloni                   =   negara jajahan negara lain, yang sama sekali tidak merdeka dan berdaulat. Negara jajahan itu seakan-akan beribu kepada negara yang menjajahnya. Hampir seluruh soal-soal koloni diatur oleh pemerintah negara ibu.

Kaji                       =   penyelidikan (dengan pikiran).

Pengindelan           =   tempat/bangunan pengendapan air (penya-ringan).

Serang                  =   sawah (Sunda); se-erang = kelompok (jawa Banten).

Situs                     =   tempat/wilayah/site (dalam istilah arkeologi)

Surosowan            =   nama sebuah istana kerajaan Banten, khusus dihuni oleh Sultan dan keluarga serta penjaga.

Comments