BAB II MENGENAL UBRUG LEBIH DEKAT

A.  Tak Kenal Maka Tak Paham

Kesenian teater rakyat yang sepadan dengan menampilkan keaktoran yang penuh lawakan berkembang di daerah dan suku bangsa di seluruh Indonesia, seperti hanya di Betawi dengan Lenongnya, Jawa Barat dengan Longsernya, Jawa Tengah dengan Ketopraknya, Jawa Timur dengan Ludruknya. Dari semua bentuk kesenian teater rakyat di daerah-daerah, terbentuknya kesenian tersebut merupakan hasil dari asimilasi kesenian keraton dan kesenian masyarakat yang berbaur lintas geografis, berkembang sesuai dengan karakter daerahnya.

Tidak bisa dipungkiri perkembangan kesenian dan sosial-budaya yang berserakan di masyarakat sekarang, merupakan gambaran nyata masyarakat kita tempo dulu, banyak sekali kesenian masyarakat yang menggambarkan sisi historis dan sosial-budaya yang berlaku di tengah-tengah masyarakat, sedikit terlupakan sebagai warisan budaya yang bernilai tinggi.

 Keberadaan kesenian Ubrug atau kesenian yang lain, belum mendapat tempat dihati pemerintah sebagai khazanah budaya. Bentuk kesenian apapun dapat memberikan informasi penting tentang pola kehidupan dan pemikiran mayarakatnya di zamannya. Penting juga menjadi landasan bagi pelestarian nilai seni-budaya kemasyarakatan yang sedikit demi sedikit terkikis oleh arus budaya asing, bahkan punah diterjang gelombang zaman. Sedikit sekali masyarakat yang mengetahui perkembangan kebudayaan daerahnya, informasi tertulis ataupun audio visual sulit ditemukan di kota-kota. Ini dibuktikan dengan kurangnya kalender event atau kegiatan kebudayaan di Banten yang mengangkat seni pertunjukan, yang sudah dilakukan baru sebatas meninabobokan praktisi kesenian, sehingga banyak komunitas kesenian tradisional terlindas dan akhirnya mati oleh zaman tanpa ada generasi penerusnya.

Timbal balik kesenian lokal dengan kesenian daerah lain terjalin sebagai sebuah upaya memadukan permintaan pasar dengan kebutuhan pelaku kesenian. Sehingga banyak pementasan kesenian yang serupa, hanya berbeda nama, lakon isi cerita. Pertalian darah dalam kesenian lokal dengan daerah lain dapat dipastikan merupakan hasil hubungan sosial masyarakat untuk melakukan percampuran atau inovasi pola pertunjukan agar lebih menarik dan mendapat kepercayan pasar.

Konsep kebudayaan daerah menunjukkan identitas suatu kebudayaan yang lahir, berkembang dan mapan di suatu wilayah yang jelas batasannya dalam konteks geografis dan didukung oleh suatu komunitas tertentu. (Ruslan Lautan; 2001;70) Seni sebagai buah karya cipta manusia yang menampilkan keindahan sebagai hasil realisasi dari ide, imajinasi, fantasi, mimpi, dan/atau bentuk neurosis, tekanan mental, psikis, ketergantungan, ketidakberdayaan, kecemasan (anxiety), ketakutan (phobia), dan segala bentuk gangguan psikologis lainnya, mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat dalam konteks sosial dan budaya. Ide-ide kreatif dalam karya seni adalah manifestasi dari kejeniusan seniman mensublimasikan bentuk represi sehingga menjadi sebuah karya seni yang indah. Perkembangan seni tidak hanya pada tataran keindahan tanpa makna, tetapi lebih jauh pada esensi yang terkandung dalam karya seni yang diciptakan, jadi bukan hanya bentuk fisik yang menampilkan keindahan estetis, namun dibalik karya seni memiliki roh yang mampu memberikan pencerahan yang mempengaruhi perenungan bagi penikmat atau audiensi untuk mencapai kesadaran estetis.[1]

Kesenian yang berfungsi tidak saja sebagai hiburan tetapi di dalamnya terkandung berbagai kegunaan (dulce et utile) adalah representasi dari ekspresi budaya masyarakat itu sendiri. Norma dan nilai kehidupan disampaikan dan mendapat salurannya melalui kesenian. Artinya, kesenian akan hidup dan berkembang manakala masyarakatnya memelihara, mengembangkan, melakukan secara aktif, dan mengapresiasi. Dalam konteks itulah, secara kritis perlu dilihat bagaimana kesenian tradisional Betawi pada era globalisasi ini. (M.Yousuf; Sawangan, 22 Juli 2008)

Topeng merupakan kesenian khas Indonesia yang sudah ada semenjak zaman nenek moyang. Hampir semua daerah di Nusantara memiliki sejarah tentang pertunjukan menggunakan topeng. di Jawa pertunjukan seni topeng telah dikenal semenjak tahun 762 saka (840 m). Hal ini dijelaskan dalam prasati Jaha dan dikala itu topeng dijadikan sebagai sarana utama ritual pemujaan dan pertunjukan yang dikenal dengan istilah Atapukan. Istilah lain yang juga sering digunakan yaitu istilah Raket, Manapel dan Popok.

Dari beberapa istilah tersebut semuanya menjurus pada satu arti yaitu berarti penutup wajah yang pada saat ini juga bisa disamakan dengan arti kata ”topeng.” Dalam literatur lain disebutkan bahwa keberadaan topeng telah dikenal semenjak zaman kerajaan tertua di Jawa Timur yaitu kerajaan Gajayana (760 masehi) yang berlokasi di sekitar Kota Malang sekarang. tepatnya, kesenian ini telah muncul sejak zaman Mpu Sendok. Saat itu, topeng pertama terbuat dari emas, dikenal dengan istilah Puspo Sariro (bunga dari hati yang paling dalam) dan merupakan simbol pemujaan raja Gajayana terhadap arwah ayahandanya, Dewa Siwa.

 

B.  Ubrug Masa Lampau

Mengungkap latar belakang kesenian teatar rakyat (ubrug) di Banten, dihadapkan pada kesulitan tidak tersedianya dokumentasi lapangan maupun data tertulis, bahkan dari kelompok-kelompok yang eksis saat ini tidak memiliki arsip tertulis. Hal ini menyebabkan peneliti mengalami kesulitan dalam menggali informasi dari masyarakat sebagai panduan awal dalam melangkah untuk penulisan lebih lanjut. Adapun data tertulis dari buku-buku yang tersedia tidak banyak memberikan gambaran yang dibutuhkan.

Meski demikian, penulis mendapat tantangan untuk mengungkap masa lalu kesenian ubrug sebagai kesenian daerah yang hidup sampai saat ini di tengah-tengah masyarakat, karena kelahiran Ubrug berasal dari golongan masyarakat bawah. Dan sebagai upaya untuk melestarikan warisan budaya lokal tersebut diperlukannya suatu pengkajian yang dituangkan dalam bentuk tulisan (buku).

Di Banten, teater tradisionalnya tidak hanya dikenal dengan sebutan ubrug namun ada sebutan lain, yakni topeng dan lenong untuk daerah Tangerang dan lebak.

Lenong berkembang sejak akhir abad ke 19 atau awal abad ke 20. Kesenian teatrikal tersebut mungkin merupakan adaptasi oleh masyarakat Betawi atas kesenian serupa seperti “komedi bangsawan” dan “teater stambul” yang sudah ada saat itu. Begitu juga dengan munculnya kesenian tari topeng dan topeng kehadirannya dan keberadaan kesenian tersebut dengan teknik bercerita yang dilakukan oleh para dukun (samman) dengan isi cerita tersebut mengisahkan tentang sejarah dan perilaku para nenek-moyang suatu komunitas tertentu. Kesenian ini dinamakan ringgit atau aringgit. Adapun peran pencerita pada zaman sekarang lebih sering dilakukan oleh dalang. Proses penceritaan kisah tersebut menjadi sebuah wujud penghormatan bagi nenek moyang yang bersifat animistik dan sarana pemanggilan ruh.

Jika dilihat dari kacamata psikologi sosial, dari pertunjukan topeng ini,  bisa disinyalir bahwa peran seorang samman (dukun, dalang) sebagai seorang pencerita memiliki andil yang cukup besar dalam proses internalisasi pemahaman aspek religius-kultural pada penonton selama pertunjukan berlangsung,dalam beberapa literatur banyak diceritakan tentang cara penyajian pertunjukan tari tersebut. Salah satunya dalam kitab Negara Kertagama, di dalam kitab tersebut diceritakan tentang kronologi upacara Sraddha yang dilaksanakan oleh Prabu Hayam Wuruk untuk menghormati roh Sri Rajapatni, neneknya. Di dalam upacara tersebut Prabu Hayam Wuruk mengenakan topeng yang dinamakan Sang Hyang Puspasharira dan memperagakan tarian pemujaan agama yang dianutnya.

Di Banten sendiri tari topeng pernah ada, entah sejak kapan kemunculannya, namun terakhir tari topeng ini pentas dengan pada tahun sekitar 1984, kelompok tari topeng ini terdapat di kecamatan Bojonegara desa Pekuncen kampung Kalilanang kabupaten Serang. Tahun 2005, penulis menyelusuri jejak kelompok tari topeng yang pernah ada di Banten tapi sayangnya grup tersebut sudah tidak aktif, hanya tinggal para nayaga dan beberapa aktor, itupun sudah lanjut usia. Menurut informasi pelaku topeng bapak Sajim, grupnya dipimpin oleh seorang dalang Saniman dari desa Serdang kecamatan Keramat Watu, sedangkan nayaga dan aktornya berasal dari kampung Tanjung, Kalilanang dan Cikadu. 

Mengungkap kesenian tradisional di Banten secara keseluruhan mungkin sama halnya mencari jarum dalam tumpukan jerami. Dalam manuskrip naskah kuno tidak banyak menggambarkan kapan dan dari mana kesenian tersebut berasal, apalagi bentuk pementasan yang sekarang tersisa di tengah-tengah masyarakat, sudah mengalami perpaduan dengan kesenian modern. Sedangkan artikel yang tersedia hanya menggambarkan bentuk kesenian yang sekarang masih tersisa di tengah-tengah masyarakat. Hal inilah yang menjadi kerja berat bagi para peneliti kesenian dengan meraba-raba serta mengasumiskan dari data-data maupun keterangan-keterangan dari para pelaku kesenian itu sendiri.

Kalaupun dapat data tertulis, hanya sebatas dari aspek leksikal dan etimologinya. Ketika studi lapangan ke desa Kiara Kecamatan Walantaka Kota Serang, dan desa Parigi kecamatan Curug Kabupaten Tangerang, ternyata peneliti tidak berhasil mendapatkan informasi yang tepat dan akurat tentang pengertian ubrug dari aspek leksikal dan etimologinya. Secara umum narasumber tidak mengetahui makna kata ubrug. Oleh karena itu dalam tulisan ini peneliti menggunakan pengertian Ubrug Banten secara deskriptif. Pendeskripsian itupun sangat normatif dan dapat berubah sewaktu-waktu.

Pengertian Ubrug dari aspek deskriptif dapat dirumuskan sebagai berikut, yakni salah satu bentuk folklore  yang tumbuh dan berkembang di masyarakat.  Di Serang, folklore tersebut berkembang dari kampung Prisen, Walantaka dengan pola permainan yang longgar dengan memadukan unsur komedi, gerak/tari, musik, sastra (lakon), dan perupaan yang khas. Adapun keterangan tentang kekhasan ubrug, akan dibahas secara tuntas dalam bagian selanjutnya tulisan ini.

Ubrug sebagai bentuk teater rakyat (the small tradition) karena lahir dari rakyat dan isinya menggambarkan persoalan-persoalan kerakyatan. Persoalan kerakyatan ini secara lebih jelas dapat dirunut dari awal kemunculannya, yakni teater rakyat lahir pada zaman pra sejarah dalam bentuk upacara/ritual, tari-tarian, dan tarian perang. Bentuk upacara antara lain upacara untuk menghormati arwah nenek moyang (ancestor worship) dan ada pula pertunjukan yang digunakan untuk merayakan keberhasilan panen (harvest celebration). Dalam masyarakat sering kita jumpai upacara inisiasi, yakni upacara untuk memperingati hari-hari penting bagi perkembangan anak, upacara pendewasaan, upacara perkawinan serta kematian (initiation rites) selain itu untuk upacara bersih desa. Yang berbentuk tarian sering diselenggarakan di seputar api unggun untuk tujuan merayakan keberhasilan perburuan (hunting celebration). (Suprianto dan M.Sholeh Adi Pramono, 1990: 3)

Dalam perkembangan selanjutnya dijumpai tari-tarian perang melalui kisah-kisah heroik. Mengingat ubrug termasuk teater rakyat maka kedudukan ubrug sebagian besar memenuhi fungsi seperti yang tersebut di atas.

Kesenian lahir dari karakter masyarakat di daerah itu sendiri, dan berkembang setelah menjalin asimilasi kebudayaan dengan daerah lain. Perkembangan kesenian tidak luput oleh tangan-tangan kreatif dengan melakukan inovasi-inovasi baru. 

Khusus mengenai budaya Banten dalam perspektif sejarahnya, John N. Miksic melihat pembabakan waktu ke dalam:

a.     Pra-Sunda Islam (1400-1525),

b.     Awal penyebaran Islam 1525-1613,

c.      Masa keseimbangan kekuatan-kekuatan Banten, Batavia, Mataram, 1619- 1682,

d.     Masa ancaman VOC/Belanda 1682-1811,

e.     Masa surut dan jatuhnya Kesultanan Banten (1811-1830), dan

f.        Masa resen, 1830-1945.[2]

g.     Masa kemerdekaan- sekarang

Untuk memberikan keterangan mengenai sejarah pertunjukan ubrug (topeng), perlu penggambaran periodesasi untuk mempermudah menulusuri sumber-sumber yang diperoleh dari zaman-ke zaman. Periode ini di mulai dari zaman kesultanan, zaman kekuasaan kolonial, dan zaman kemerdekaan. Periodisasi seni peran tradisional itu dilakukan untuk mempermudah interpretasi perkembangan pertunjukan kesenian ubrug. 

a)   Ubrug Zaman Kesultanan

Data tertulis tertua yang menerangkan tentang seni peran ada dalam naskah Sejarah Banten yang di ceritakan oleh Sandimaya dan ditulis oleh Sandisastra mengenai pertunjukan raket (seperti wayang orang) dan Calung, keterangan ini tertulis dalam Pupuh Sinom bait ke 21- 23. Hélène Bouvie dalam bukunya ‘Seni Musik Dan Pertunjukan Dalam Masyarakat Madura, menjelaskan bahwa Raket adalah sejenis pertunjukan pendek tanpa topeng yang pada mulanya berdasarkan tarian dan nyanyian sewaktu sewaktu menumbuk padi. Kemudian dijadikan tarian keraton selewat-lewatnya pada abad ke 14. Menurut satu hipotesis lainnya asal-usulnya adalah topeng kecil. Adapun tukilan naskah tersebut sebagai berikut:

 

Dari keterangan naskah tersebut di atas, menjelaskan mengenai pesta turun tanah Pangeran Anom atau Pangeran Surya (Sultan Ageng Titayasa) yang masih balita yang sangat dicintai oleh Kakeknya, Sultan Abul Mufakhir Abdul Kadir Kenari. Dalam pesta tersebut semua pemain berasal dari golongan keraton maupun dari orang asing, tampilannya sendiri berbentuk drama tari.

Pada pertunjukan raket, tiap-tiap adegannya dibagi secara runtut, sesuai dengan pakem pertunjukan. Susunan tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Jejer sepisan: adegan kerajaan jawa / panji. pada adegan ini sebelum para penari berdialog, dalang mengucapkan janturan yang menggambarkan sifat keadilan raja yang memimpin negaranya dengan makmur dan adil. (gending angleng atau kalem)
  2. Grebeg jawa: pengembaraan panji (gending angleng atau kalem)
  3. Jejer kapindo: adegan di kerajaan sabrang (gending setro atau agak keras)
  4. Grebeg sabrang: adegan pengelanaan raja klono bersama para patih untuk mencari putri yang akan dinikahi atau menaklukkan kerajaan lain. (gending gondo boyo atau keras)
  5. Perang grebeg: pertemuan antar panji dengan kerajaan sabrang (gending gondo boyo atau keras)
  6. Jejer katelu: adegan pertapaan / kerajaan lain. (gending angleng atau kalem)
  7. Potrojoyo-gunung sari (gending pedhat atau biasa)
  8. Adegan ulangan kerajaan pertama
  9. Jejer kalima: perang besar antar kedua kerajaan (gending gondo boyo atau keras)

Pada zaman Sultan yang ke 4 kesultanan Banten, mulai digambarkan dalam sejarah  mengenai bentuk kesenian Banten walaupun tidak serinci secara lengkap seperti data-data tertulis yang ada di daerah lain. Namun demikian keterangan yang singkat ini dapat memecahkan kebuntuan masa lalu kesenian di Banten. Di gambarkan dalam naskah tersebut bentuk kesenenian antara lain: Gamelan Sakati, dan goong. Digambarkan adanya keriuhan dari suara kendang yang saling bersahutan pada acara Sasapton. Upacara Sasapton ini merupakan ungkapan kegembiraan dari Sultan Abul Mufakhir Abdul Kadir atas kelahiran cucunya. Sehinga diadakan sebuah pesta besar-besaran setiap hari Sabtu di depan Keraton Surosowan, dan yang menjadi Nayaga dari kalangan para ponggawa. Hal ini dimungkinkan, karena di keraton Surosowan terdapat ruangan untuk alat-alat kesenian yang disebut Panayagan.

 

b)  Ubrug Zaman Kolonial

Ketika Daendels menjadi Gubernur Jenderal di Indonesia (1808-1811), pendidikan menjadi salah satu perhatiannya. Meskipun pada mulanya penyelenggaraan pendidikan diperuntukan bagi anak-anak Barat, namun pada masa-masa berikutnya masyarakat pribumi pun dapat menikmatinya. Daendels, selaku pengikut aliran Aufklarung, menyatakan bahwa pengajaran harus diselenggarakan untuk anak-anak Barat, agar mereka mengenal kesusilaan, adat-istiadat, hukum, dan pengertian keagamaan orang Jawa. (Hardjasaputra; 2002;74)

 Usaha-usaha Daendels untuk mengadakan pembaruan di bidang pendidikan antara lain: Pertama, pendidikan berdasarkan agama Kristen (terikat dengan gereja) ditinggalkan. Kedua, sesuai dengan orientasi Daendels yang berkisar pada masalah pertahanan dan strategi militer maka pada 1808 dibuka sekolah pertama, yaitu Sekolah Artileri di Meester Cornelis (Jatinegara). Ketiga, pada tahun 1808 Daendels memerintahkan kepada para bupati di Jawa untuk mendirikan sekolah-sekolah di tiap-tiap distrik yang memberikan pendidikan berdasarkan adat-istiadat, undang-undang, dan pokok-pokok pengertian keagamaan (Islam). Keempat, pada tahun 1809 untuk pertama kalinya diselenggarakan pendidikan bidan sebagai bagian dari usaha pemeliharaan kesehatan rakyat. Pengajarnya adalah para dokter yang berada di Batavia (Jakarta), dengan menggunakan bahasa pengantar bahasa Melayu.[3]

 Dalam pelaksanaannya, pembaruan dalam bidang pendidikan banyak mengalami kegagalan. Hal itu terutama disebabkan oleh tidak adanya biaya khusus bagi pembinaan pendidikan dan pengajaran. Peralihan pemerintahan ke pihak Inggris yang diwakili oleh Letnan Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles (1811-1816) hanya memperparah keadaan.

 Meskipun pencinta ilmu pengetahuan, Raffles tidak memperhatikan bidang pendidikan anak negeri. Akibatnya sekolah-sekolah yang didirikan pada masa pemerintahan Daendels dibiarkan terlantar. Pada masa akhir pemerintahannya (1816), sekolah-sekolah itu hampir tidak ada lagi (Dhofier,1985:36).

Sementara itu sumber lain yang menggambarkan kesenian ubrug (topeng) digambarkan oleh Thomas Stamford Raffles dalam perjalanan dinasnya ke Nusantara dan mendokumentasikan kehidupan masyarakat di Pulau Jawa dari tahun 1776-1813 yang ditulis dalam bukunya The History of Java, menjelaskan tentang pertujukan kesenian topeng dan lawakan. Topeng merupakan kesenian masyarakat yang biasa di pentaskan untuk hiburan pesta panen dan acara perkawinan, dengan mengedepankan komedi atau lawakan oleh para pemainnya.

Diceritakan pula mengenai pertunjukan oleh Rafles, seorang aktor yang menjadi tokoh komedinya dengan mementaskan idiom-idiom kebodohan sang aktor, seperti orang idiot, lenggak-lenggok mengikiti irama yang mengalun selama pertunjukan berlangsung.[4]

Banyak digambarakan bentuk pertunjukan kesenian yang biasa ditampilkan dimasyarakat maupun di masyarakat  kota keraton, oleh pelancong Eropa yang singgah di Jawa khususnya Banten, antara lain: drama, topeng, lawakan, berbagai pertunjukan wayang dan lain-lain.

Bahkan digambarkan pula oleh Ahmad Djayadiningrat[5] dalam catatan dinasnya selama menjadi pejabat pemerintahan sejak asisten kewedanaan (setingkat camat) hingga menjadi bupati. Bahwa masyarakat sekitar daerah yang dipimpinnya itu gemar mengadakan acara hiburan rakyat seperti topeng, jaipong, reog, jaran bilik dan lain-lain. Bentuk hiburan ini sering terjadi keributan oleh para penontonnya. Kendati demikian masyarakat tetap menyelenggarakan hiburan rakyat tersebut. Hal inilah sehingga ada perintah larangan beberapa jenis pertunjukan rakyat.

Sumber-sumber yang detail mengenai pertunjukan seni pertujukan tidak banyak diketemukan di Banten, sehingga penulis menulusuri jejak-jejak kelompok yang pernah terkenal pada zamannya. Akan tetapi tidak banyak pula informasi yang di dapat dari lapangan.     

c)  Ubrug Zaman Pra dan Pasca Kemerdekaan

Sejarah secara tradisional dianggap sebagai cerita/catatan yang obyektif mengenai masa lalu. Akan tetapi, kita mulai menyadari bahwa sejarah tidak lepas dari bias-bias. Kesadaran seperti itu ditangkap dalam New Historicism, sebuah teori sejarah dengan pandangan kultural. New Historicism menganggap bahwa sejarah itu subyektif, dan sejarah adalah interpretasi masa lalu, bukan masa lalu itu sendiri (lihat Basuki:2003).

Dari berbagai tempat yang dikujungi tidak banyak informasi tentang sejarah ubrug itu sendiri, bahkan tahun didirikannya pun masih meraba-raba dengan menyebutkan kejadian yang pernah terjadi pada saat itu. Sehingga beberapa asumsi muncul untuk mengetahui tahun berdiri komunitas tersebut. Namun demikian dari data-data lisan yang didapat kiranya dapat memberikan gambaran mengenai asal-usul kesenian tradisional khususnya ubrug atau lebih dikenal oleh para pelaku dengan sebutan topeng.

Historis Ubrug pada zaman-zaman tersebut di atas, adalah periode yang paling gelap secara tertulis yang mendeskripsikan pementasan ubrug. Penelitpun diharuskan banyak terjun langsung ke grup-grup ubrug terkini untuk menelusuri mata rantai yang terputus, alhasil banyak informasi berserakan di tengah masyarakat. Informasi itu pun hampir seluruhnya lisan.

Kondisi ini pun ditemui ketika peneliti mengunjungi kelompok Cantel dan Tolay, hanya sedikit informasi yang didapat mengenai keberadaan Ubrug di masa lalu. Menurut Sarmani dari grup Cantel yang sudah malang-melintang di dunia Ubrug dan Jaipongan sejak tahun 60-an, sejarah munculnya grup Ubrug hanya bias dipindai mulai dari munculnya grup Ubrug Ican, Sani, Jambul, Ibo, sekitar tahun 1950an.

Kelompok Ican, Sani, Jambul, dan Ibo ini diprediksikan aktif pada tahun 1900-1935. Sementara kelompok yang Sarmani ketahui pementasannya antara lain kelompok Ponah, Entus, Sendok, Kasmadi, Abe dan Awang. Dia juga memperkirakan bahwasanya Ubrug sudah ada sejak zaman kesultanan, tapi tidak mengetahui bentuknya secara rinci, yang beliau ingat hanya satu kelompok ubrug Ponah yang ada sekitar tahun sebelum kemerdekaan sampai tahun 50-an.

Dari kelompok Ponah inilah banyak banyak berlahiran kelompok ubrug yang ternama, sezaman dengan grup Ponah (Koper Balaraja Kabupaten Tangerang) adalah grup Ribut (Pengawinan Kecamatan Bandung Kabupaten Serang), grup Ranti (Puser Tirtayasa Kabupaten Serang), dan grup Sinar Muda, (Oyong Keresek Tangerang).  Generasi berikutnya adalah groip Jari,  Senaan, Termos dan lain-lain

Karena informasi sejarah Ubrug masih lewat penuturan lisan, maka peneliti mengkombinasikannya dengan karakteristik kesenian tradisional yang ada di Banten. Dalam naskah wawacan babad Banten hanya terdapat satu pertunjukan kesenian bentuk tarian Tayub. Tari Tayub ini di abadikan melalui sketsa oleh rombangan Cornelis De Houtmen waktu pertama kali datang ke Banten pada tahun 1596 yang disambut dengan tarian Tayuban oleh Kesultanan Banten.

Sejarah kesenian Banten tidak luput dari pandangan da’wah Islam di Banten. Dari beberapa bentuk kesenian tradisi di Banten hampir semua mengandung ritual khusus sebelum pementasan. Untuk mengetahui kesenian ubrug maka perlu mengungkap sedikit kesenian bodoran yang terdapat dalam kesenian rampak dayak yang sekarang tersisa di beberapa tempat kecamatan Puloampel, Bojonegara kabupaten Serang dan kota Cilegon.

Pengertian Rampak Dayak itu sendiri adalah dari dua kata rampak dan dayak rampak yang bermakna serantak dayak pementasan. Dari kesenian rampak dayak ini terdapat beberapa bentuk kesenian tradisi antara lain, patingtung, gembrung (terbang gede), rudat, bodoran, yang dikemas dalam bentuk arak-arakan (karnaval). Pengunaan kostum dengan yang beragam, dari mulai tokoh masyarakat kecil hingga pejabat dan ulama. Bentuk pertunjukannya setelah melakukan perjalanan dari kampung-kampung dengan arak-arakan penganten baik penganten Khitanan maupun sepasang Pengatin. Arak-arakannya ini berlangsung pada siang hari.

Pengantin khitan biasanya duduk di atas kuda hias sedangkan untuk sepasang pengantin duduk di atas sado (andong) bak seorang raja yang keliling ke masyarakat dengan dikawal oleh beberapa pasukan tombak, pasukan pedang, dan pasukan panah. dan diiringi dengan irama gembrung (terbang gede), di belakangnya gembrung ini terdapat masyarakat kecil yang berperan sebagai nelayan, petani, pedagang, dan orang-orang yang sering berbuat onar (penjahat, penjudi, pemabuk dll), dan dibarisan terakhir tokoh bodoran yang sering membuat geleger tertawa, barisan ini di iringi oleh irama patingtung dan rebab serta nyinden. Untuk  barisan paling belakang terdapat tokoh santri dan ulama dengan diringi oleh musik rudat.

Bentuk pementasan rampak dayak melakukan perjalanan yang melawati kampung-kampung mencari kerumunan warga dan tanah lapang (lapangan) langsung membentuk lingkaran dangan formasi masing-masing. Untuk pengantin tetap duduk manis melihat pertunjukan dan pasukan perang membentuk barisan pengamanan setelah melakukan tarian perang dan perannya masing-masing. Sedangkan barisan kedua masyarakat biasa melakukan aksi tetrikal dan bodoran sesuai dengan kostum yang dipakainya dan barisan yang terakhir merupakan penuntup rangkaian pementasan tersebut dengan ceramah agama oleh golongan santri dan ulama yang langsug ditutup oleh ulama.

Setelah pementasan tersebut usai maka rombongan akan melanjutkan perjalanannya dan mencari tanah lapang untuk melakukan kegiatan yang serupa. Perjalanan arak-arakan ini membutuhkan masyarakat sekampung.

Menurut sesepuh rampak dayak yang berperan sebagai pasukan perang bapak Serikam, kesenian ini sudah dilakukan sejak dari jaman kesultanan karena ini adalah media dakwah yang paling efektif. Sedangkan menurut ustd. H. Hawasi yang memaparkan ketika mengisi pengajian agama, rampak dayak adalah kesenian untuk proses islamisasi di Banten. Dengan menggunakan media pengantin khitan yang arak keliling kampung, maka anak-anak akan mita dikhitan agar bisa diarak oleh pasukan dan mendapat penghormatan.

Rampak Dayak ini juga bukan hanya di gelar pada acara khitanan dan pengtin saja, melainkan digelar untuk ritual minta hujan dengan berdo’a bersama-sama. karena rampak dayak media pengumpulan masa yang paling efektif pada zamannya.

Dengan acuan di atas untuk mengetahui kesenian Ubrug yang ada di Banten sempilan dari rampak dayak yang dikemas sendiri untuk kebutuhan hiburan malam. Di masyarakat Ubrug dikenal dalam pementasannya dengan sebutan topeng.

Fungsi teater daerah dalam kehidupan masyarakat tidak lain dan tidak bukan untuk memberi tempat atau wadah bagi budaya masyarakat, yang akhirnya dapat memberi tuntunan masyarakat sesuai dengan budaya yang dimilikinya. Teater tradisi mempunyai dua fungsi utama. Pertama, sebagai sarana hiburan yang juga sebagai wadah untuk berkomunikasi antarwarga. Kedua, sebagai fungsi ritual, bersifat transcendental, yaitu sebagai media hubungan antarmanusia.

Penelaahan lebih kritis atas drama-drama yang terhimpun dalam tiga jilid Panggoeng Giat Gembira, Lakon Sandiwara dan Leloetjon di atas menunjukkan bahwa pada sebagian besar drama tersebut terkandung juga pesan terselubung yang sesungguhnya dapat dipandang sebagai penolakan terhadap apa yang dipropagandakan yang dinyatakan secara verbal dalam unsur dialog drama tersebut. Penolakan semacam itu dikategorikan sebagai kontra-propaganda. Berbeda dengan muatan propaganda yang demikian jelas dan karena itu dengan mudah segera tertangkap pembaca – karena Panggoeng Giat Gembira, Lakon Sandiwara dan Leloetjon memang diterbitkan untuk maksud propaganda, muatan kontra-propaganda dalam drama tersebut dinyatakan secara tersirat dan bahkan tersembunyi. Jika pesan propaganda disampaikan secara verbal melalui dialog, pesan yang bersifat kontra-propaganda disusupkan ke dalam drama melalui piranti pengaluran dan penokohan. (Ahid Hidayat http://lib.unhalu.ac.id/files/ahid93 /penelitian%20sastra.pdf.)

Bangsa kita memiliki berbagai macam teater tradisi yang tersebar di wilayah nusantara, seperti teater Sanghyang yang berasal dari Bali, Randai dari Minangkabau (Sumatera Barat), Ketoprak dari Jawa, Ubrug dari Banten, dan Lenong serta Topeng Betawi dari Jakarta. Teater daerah Bali memiliki ciri-ciri yang unik, antara lain tata pakaian yang meriah (fantastis), gerakan tubuh dan teriakan-teriakan dengan ritmis yang sungguh unik, serta cara penyajian yang dapat membawa penonton ke alam metafisik (alam bawah sadar).


C. Identitas Ubrug

1. Penamaan Ubrug

Penamaan lain dari kesenian ini sebenarnya adalah absah-absah saja lantaran dasar pijakan yang digunakannya berbeda. Namun, dalam tulisan ini kami lebih pas bila menggunakan istilah Ubrug Banten, kerana keberadaannya sebagai institusi kesenian musti dipandang secara holistik sebagai sebuah bentuk pertunjukan kesenian tempat dia berasal dan berkembang. Jikalau, Pigeaud mengetahui keberadaan kesenian tersebut tatkala dia melakukan penelitian, maka tidaklah heran bila ia menamai kesenian ini dengan satu kata: Ubrug (?). Sarmani, pelaku seni pelawak dan budayawan asal Kragilan, menamakan Ubrug dengan nama yang lain yakni “Topeng”.

Ubrug menurut pelakunya[6] berasal dari kata gabrugan, Abrag, grubug dan ubreg (istilah jawa Serang) adapun pengertian dari masing-masing tersebut diatas sebagai berikut: Gabrugan yang berarti memanfaatkan pelaku seni peran sesuai dengan keahlian dan kemampuan dalam memainkan suatu peran. Abrag dalam arti teks adalah  tidak ada rasa atau tidak ada isi. Grubug artu secara bahasa adalah bohong, dan sementara kata terakhir Ubreg, yang memiliki makna secara bahasa adalah rebut, brisik, bercanda, atau ngebanyol. Pengertian ubrug menurut istilah adalah pertunjukan komedi masyarakat yang memiliki kemampuan eacting  secara alamiah untuk keperluan ritual dan hiburan tanpa teks naskah atau pakem.

2. Peralatan dan Pemakaian

Para panjak dan sinden yang bertugas mengiringi proses penampilan berada di sisi kiri depan panggung. Penempatan panjak di samping ini yaitu untuk mempermudah komunikasi antara penari dengan dalang. Para panjak duduk dengan memegang alat-alat musik tradisional masing-masing yang dikuasainya, terdapat gong, kendang, bonang, rebab, dan alat-alat musik tradisional lainnya. Semua dimainkan sesuai instruksi, bagi sinden dan panjak masa sekarang ditekankan untuk bisa menyanyikan berbagai macam lirik lagu utamanya lagu trend modern. Hal ini, salah satunya untuk mengantisipasi permintaan penonton, kadangkala cenderung yang aneh-aneh sesuai dengan karakter yang dimilikinya. dan untuk mendukung kejelasan suara ketika terjadi dialog antar tokoh, iringan gending dan nyanyian sinden digunakan alat bantu speaker dan sound system.

Seting pertunjukan yang ada pada akhir-akhir ini sangat berbeda dengan seting pertunjukan pada era 1980an, dahulu alat penerangan yang dipakai adalah dammar godog atau lampu petromak yang digantungkan pada tiang yang terbuat dari bambu dan diletakkan di sisi kanan kiri panggung. Panggung pertunjukan dibangun di tengah tanah lapang sehingga penonton yang berdiri bisa memutari panggung pentas. Namun ada juga bentuk pertunjukan yang tetap dipertahankan seperti seting masa lalu adalah waktu pelaksanaan ritual bersih desa yang pelaksanaan tari tersebut dilakukan di atas panggung dekat goong dengan meletakkan sesaji untuk memohon kelancaran pertunjukan ke para leluhur penduduk setempat.

Secara garis besar pementasan seni tradisional khususnya teater rakyat yang dikenal Ubrug atau topeng dikalangan penggerak seni Ubrug, terdapat tujuh struktur permainan yang ditampilkan antara lain sebagai berikut:

  1. Tatalu

penyajian pementasan pertama dalam pertunjukan mendendangkan irama Jaipongan dan patingtung (kendang pencak). Irama Jaipongan biasa digunakan oleh komunitas yang berada di wilayah Serang Timur, Tangerang, Pandeglang dan Lebak. Sedangkan yang menggunakan Kendang Penca meliputi daerah Cilegon dan Bojonegara.

  1. Lalaguan:

Lalaguan ini menandungkan lagu-lagu Sunda yang diiringi dengan alat musik Jaipong. Adapun lagu yang dikumandangkan sesuai dengan alur cerita pertunjukan.

  1. Tatalu Singkat

Ini kemudian disambung tatalu singkat sekitar 2 menit dilanjutkan dengan Nandung.

  1. Nandung (tandak “penari”/ronggeng “jaipong”)

Nandung yang ini sudah di lengkapi dengan penari/ronggeng, sambil ngibing mengikuti irama Jaipong, biasanya 2-3 lagu, kurang lebih 20 hingga 40 menit berlangsung. Tahapan demi tahapan ini sambil mempersiapkan aktor mempersiapkan make up dan mengundang penonton bahawa acara akan dimulai.  

  1. Bodoran “Lawakan”

Penyajian pementasan berikutnya menampilkan tokoh bodoran (lawakan) yang bisa mengocok perut dengan lelucon-lelucon yang diperagakan, dengan dialog dan tubuh (gesture), biasanya tokoh ini sekaligus nama komunitas Ubrug tersebut seperti: Cantel, Kancil, Gentong, Termos, Baskom, Centong, Senaan, Aria, Dirma, Jaki, Emen, Tolay, Aji Ketel, SIlih Asih, Kobet Odah, Ponah dll. Meraka semua muncul pertama dan mengumbar banyolan-banyolan masyarakat sebagai tokoh komedi.

  1. Lakon “Isi Cerita”

penyajian lakon merupakan pementasan inti dengan menceritakan judul yang telah dimusyawarahkan terlebih dahulu oleh actor-aktornya dibawah panggung. Lakon lakon tersebut mengangkat kejadian social yang lagi hangat-hangatnya dibicarakan di tengah-tengah masyarat. seperti lakon-lakon Beranak dalam kubur, Korban Lebaran, Dalang Edan, Salah Wesel, Kurung dedes Pocong, Kembang Mustika Telaga Warna, Nyandung ngandung, Sumpah Pocong, Indung Tiri, dll.

  1. Soder

Yaitu beberapa ronggeng keluar dengan menampilkan goyang pinggulnya. Para pemain memakaikan kain, baju, topi atau yang lainnya ke tubuh ronggeng. Sambil dipakai, para ronggeng terus menari beberapa saat dan kemudian barang-barang tadi dikembalikan kepada pemiliknya dan si pemilik menerima dengan bayaran seadanya. Soder berlangsung kurang lebih 20-30 menit.

3 Fase Perjalanan Pertunjukan

Perjalanan bentuk pertunjukan ubrug, banyak melakukan perubahan-perubahan dengan menyesuaikan keadaan dan perkembangan zaman, yang tidak mengubah struktur pertujukan. Adapun bentuk pertunjukan Ubrug  terdapat beberapa fase antara lain:

a.      Fase Obor; pertunjukan Ubrug dilakukan di tanah lapang berbentuk melingkar dengan menancapkan penerang berupa obor dititik-titik tertentu, pada fase ini penonton langsung berbaur dengan para pemain dan direspon oleh para aktor mapun para nayaga (pemain musik).

b.      Fase Patromak; pada fase ini pertunjukan masih tetap menggunakan tanah lapang dan belum tampil diatas panggung. Akan tetapi di tempat-tempat tertentu sudah menggunakan media panggung yang sederhana terbuat ala kadarnya.

c.      Fase Aki (Acu); media penerang dengan aki ini sudah banyak menggunakan panggung sebagai sarana pementasan dan sudah didukung oleh sound system sebagai pengeras suara. Pengeras suaranya pun masih sederhana sekali hanya amplifayer dan corong toa dengan model mic seperti mangkok yang digantung di panggung.

d.      Fase Listrik; fase ini pementasan ubrug sudah melakukan perubahan dalam bidang peralatan di bidang pengeras suara dan panggung. Akan tetapi walaupun media pertunjukan semakin enak dan tidak gelapan-gelapan, sebagaian masyarakat enggan untuk menampilkan pertunjukan ubrug sebagai sarana hiburan rakyat dalam setiap hajatan atau syukuran. Sehingga membuat para kelompok seni tradisi gulung tikar ditambah dengan serbuan media hiburan yang tak ada henti-hentinya seperti layar tancap dan organ tunggal sehingga para pemain kesenian tradisional mengalami kemunduran khususnya di Ubrug.

Fase-fase tersebut di atas tidak banyak mengubah pola permainan Ubrug, walaupun ada penambahan alat-alat modern seperti pengeras suara, dan properti lainnya para pemain masih tetap menggunakan konsep terdahulunya.

Inovasi dilakukan, mengingat persaingan dunia hiburan rakyat semakin terkikis dengan adanya hiburan modern yang murah. Hiburan modern ini seperti, layar tancap, televisi dan grup band bahkan dangdut pada tahun-tahun 1970-an. Sehingga tidak sedikit komunitas ubrug yang gulung tikar karena kalah saing di pasar hiburan.



[1] Wahyu Lestari; Seni Pembebasan : Estetika Sebagai Media Penyadaran (makalah, Dosen Jurusan Seni Tari Unnes).

        [2] John N. Miksic, 1986, "Artifacts, Museum, and Urban Site Restoration," Seminar on Preservation of Historic Sites of Banten, Jakarta: Ditlinbinjarah - The Ford Foundation, 54-67.

[3] Dhifier,1985. hal. 11-13

            [4] Thomas Stamford Raffles, The Historis Of Java. (Yogyakarta, Narasi 2008). hal 230. Buku ini di terbitkan pertama pada tahun 1817 di Inggris.

            [5] Ahmad Jayadiningrat, Catatan Harian Ahmad Jayadiningrat, 1998

            [6] Bpk. Marim sebagai wakil ketua dari komunitas Ubrug Cantel Group. pada tanggal 05 Januari 2010 pukul 16.00-17.30 wib.

Comments